Sabtu, 19 September 2009

'APOTEKER'

Pendahuluan
Akhir – akhir ini telah timbul
polemik tentang siapa, apa dan
bagaimana peran seorang
Asisten Apoteker, terutama untuk
pekerjaan pelayanan
kefarmasian ( Pharmaceutical
care ) yakni satu bentuk
pelayanan dan tanggung jawab
langsung profesi apoteker dalam
pekerjaan kefarmasian untuk
meningkatkan kualitas hidup
pasien. Asisten apoteker
sebenarnya bukanlah gelar
akademis, tetapi sebutan untuk
orang yang bekerja membantu
apoteker dalam kerja profesi
farmasi. Sering ada terjadi
bahwa seorang apoteker di
apotik bekerja sebagai asisten
(pembantu) apoteker lain yang
menjadi APA di apotik itu. Malah
ada pula apoteker menjadi
apoteker pendamping yang
bertugas membantu APA di
apotik tersebut.
Dalam Permenkes No. 679/2003
seolah terkesan asisten apoteker
adalah “ gelar “ yang diberikan
kepada lulusan untuk sekaligus
tiga jenis institusi pendidikan
yang berbeda kurikulum
kompetensinya dan stratanya.
Profesi apoteker ( dulu dikenal
dengan istilah “polyvalent” )
dapat dilaksanakan diberbagai
bidang pekerjaan, seperti apotik,
industri, distribusi, litbang,
pengawasan mutu, dll. Kesemua
bidang ini dalam kerja profesi
apoteker memerlukan pembantu
yang sesuai dengan kompetensi
yang dimilikinya.
Jika kita pahami masalahnya,
tentu tidak sulit memperjelas
mana asisten apoteker untuk
membantu apoteker di
laboratorium sebagai analis
farmasi dan makanan, mana
yang berkompetensi membantu
apoteker dalam pelayanan
farmasi di apotik, di industri, di
litbang, dst.Sejarah dan latar
belakang asisten apoteker.
Di Indonesia, pada zaman Hindia
Belanda sudah ada pendidikan
asisten apoteker. Semula asisten
apoteker dididik di tempat
kerjanya di apotik oleh apoteker
Belanda. Setelah calon tersebut
memenuhi syarat maka
diadakanlah ujian pengakuan
bertempat di Semarang,
Surabaya dan Jakarta. Warga
Indonesia asli yang lulus
pertama ujian di Surabaya
adalah pada thn 1908. Menurut
buku Verzameling Voorschriften
Thn 1936 yang di keluarkan
D.V.G dapat diketahui bahwa
dengan keputusan pemerintah
Belanda No.38 thn 1918 dan
diperbaharui dengan Kep No. 15
thn 1923 ( Stb. No. 5 ) dan Kep
No.45 thn 1934 (Stb 392)
didirikanlah Sekolah Asisten
Apoteker dengan
nama“Leergang voor de
opleiding van apothekers-
bedienden onder de naam van
apothekers-assistentenschool“.
Syarat pendidikan dasarnya Mulo
bag B (setara SMP PaspaL). Pada
waktu itu jumlah murid sangat
dibatasi dan jumlah yang
diluluskan juga dibatasi sampai
hanya 20% (luar biasa ketatnya).
Pada zaman pendudukan Jepang,
sekolah asisten apoteker baru
dimulai lagi pada tahun 1944 di
Jakarta, lamanya hanya 8 bulan
dan hanya dua angkatan. Setelah
kemerdekaan, pemerintah
Indonesia membuka sekolah
asisten apoteker di beberapa
kota seperti Yogyakarta, Jakarta
dan beberapa ibukota provinsi
lainnya.
Jadi melihat sejarahnya memang
semula asisten apoteker
diadakan untuk membantu kerja
apoteker Belanda yang bekerja
di apotik pada waktu itu sangat
kurang jumlahnya. Sekarang di
Indonesia ternyata masih
diperlukan mungkin karena
apoteker sangat jarang berada di
apotik selama waktu buka
apotik.
Pembahasan
Kita ingin membahas untuk
menjawab dua pertanyaan
pokok. Pertama, apakah tenaga
menengah farmasi asisten
apoteker ( lulusan SMF/SAA )
untuk pharmaceutical care masih
diperlukan. Atau seperti tuntutan
pihak tertentu, pelayanan tsb
harus dilakukan oleh tenaga
lulusan JPT ? Istilah asisten
berasal dari kata assistent
( bahasa Belanda) yang artinya
pembantu, asisten, wakil ( A.L.N.
Kramer Sr. Kamus Belanda).
Untuk menjawabnya kita lihat ke
negeri yang melahirkan tenaga
asisten apoteker, yakni Negeri
Belanda. Kenyataannya dalam
sistem pelayanan kefarmasian di
apotik di Belanda, saat ini masih
menggunakan tenaga asisten
apoteker sebagai pembantu
kerja apoteker. Asisten apoteker
disebut tenaga menengah
karena dasar pendidikan umum
dari jalur MAVO, Middelbaar
Algemeen Vormend Onderwijs
( setingkat SMP plus, yakni SD +4
thn ) lalu dididik 3 tahun di MBO,
Middelbaar Beroeps Onderwijs
(setingkat SMK) bidang farmasi.
Dalam sistem pendidikan
nasional mereka memang sudah
ada pengarahan bakat dan minat
mau kemana siswa akan
melanjutkan pelajaran. Kalau mau
ke akademi, maka liwat jalur
HAVO, Hoger Algemeen Vormend
Onderwijs ( SD plus 5 tahun).
Untuk ke perguruan tinggi maka
harus lewat jalur VWO,
Voorbereidend Wetenschappelijk
Onderwijs (setara SMA).
Pemilihan jalur itu tergantung
prestasi akademik siswa sendiri
dan ditetapkan oleh sekolahnya.
Memang ini karena pemerintah
Belanda punya program bahwa
hanya sekitar 30 % siswa bisa ke
perguruan tinggi. Sejumlah 70 %
diarahkan ke pendidikan
kejuruan dan keterampilan yang
sangat banyak butuh tenaga
kerja.
Di Indonesia dalam Undang –
Undang No.20 tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan
Nasional, telah ditetapkan wadah
Sekolah Menengah Kejuruan,
dimana telah ditetapkan pula
pada bidang keahlian Kesehatan,
program keahlian Farmasi. Ini
memantapkan bahwa asisten
apoteker adalah produk
pendidikan menengah setara
SMK ( seperti sistem di Negeri
Belanda saat ini)
Didalam beberapa kesempatan,
pejabat Diknas sering
menyampaikan bahwa ratio
pendidikan antara SMA dan SMK
saat ini adalah 70 : 30 dan akan
dibalik menjadi 70 SMK dan 30
SMA. Ini berarti secara logika
bahwa pendidikan menengah
kejuruan farmasi ( SMF /SMK Far )
akan lebih ditingkatkan jumlah
dan kualitasnya pada masa
mendatang.
Kesimpulan dan saran
1. Melihat sejarahnya di
Indonesia, nama dan peran
asisten apoteker sudah melekat
hampir 100 tahun ( lulusan
pertama tahun 1908 di
Surabaya).
Dihitung secara jumlah, mungkin
sudah ratusan ribu lulusan A.A
dan mungkin masih puluhan ribu
A.A diseluruh Indonesia yang
tetap mengabdikan profesinya
membantu apoteker di apotik
atau fasilitas kesehatan lainnya,
dan mereka bekerja tanpa
menghitung hitung apakah
apotekernya sama – sama
bekerja profesi hadir
ditempatnya bekerja.
2. Dengan pembahasan diatas,
diharapkan makin mudah kita
memahami eksistensi dan peran
asisten apoteker selama ini,
maka diharapkan kita lebih arif
dan bijaksana pula memahami
materi dan jiwa dari Kep.Menkes
R.I No. 679/Menkes/SK/V/2003
tentang Registrasi dan Izin Kerja
Asisten Apoteker.
Ditilik dari sebutan yang tertulis
dalam keputusan tsb, istilah
asisten apoteker untuk tenaga
ketiga jenis institusi lulusan itu
mempunyai arti yang sama
yakni membantu kerja profesi
apoteker.
Yang berbeda adalah bidang
kerjanya. Itu tergantung dari
kurikulum pendidikan yang
didapatnya dan kompetensi
yang dimilikinya. Sekali lagi kita
lihat bahwa kerja profesi
apoteker itu mencakup semua
bidang ( apotik, industri, litbang,
pengawasan mutu, distribusi,
pemasaran dll. ). Untuk setiap
bidang tentu disesuaikan
kompetensi apa yang diperlukan
dan harus sesuai dengan
kompetensi / kurikulum
pendidikan yang dimilikinya.
Kompetensi di laboratorium
berbeda dengan kompetensi di
apotik yang memerlukan
ketrampilan membaca resep,
meracik, ketelitian dan
kecepatan.
Untuk industri atau Litbang atau
Lembaga pengawasan mutu
tentu sangat diperlukan
kemampuan ilmu yang lebih dari
sekadar trampil dari membaca
resep, meracik atau
menyerahkan obat kepada
pasien di apotik.
3. Sebagai penutup penulis ingin
menyampaikan bahwa
sumbangan pemikiran dalam
pembahasan asisten apoteker ini
adalah sebagai sumbang saran,
karena penulis ( yang telah
menggeluti dunia pendidikan
menengah farmasi selama 40
tahun ) sangat prihatin atas
komentar , pendapat yang
dilontarkan tanpa informasi
yang lengkap. Kita bersama ingin
mencegah berkembangnya
budaya salah menyalahkan, mau
menang sendiri dan yang paling
mengkhawatirkan adalah lupa
bahwa kita sebenarnya bergerak
dalam dunia pendidikan yang
penuh etika.
4. Terima kasih.
Ref :
1. U.U No.20 / 2003 tentang.
Sisdiknas
2. P.P 25 Thn 1980 ttg Apotik
3. Kep. Menkes No. 679 / 2003
tentang. Reg dan izin kerja A.A
4. Kep.Menkes No. 1027 /2004
tentang Standar Pelayanan
Kefarmasian di Apotik
5. Drs. Sunarto Prawirosujanto ,
Sejarah Perkembangan Farmasi
di Indonesia ( Penerbit UGM
1972)
6. Drs. J. Hazeveld, Hilversum,
Belanda. (ex SAA, wawancara)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar